Anak SMA Tak Mau Kalah
Assalmualaikum WR WB
Pada kesempatn kali ini saya
akan menyampaikan sedikit pengalamn saya
beserta teman teman seperjuangan saya dalam mencari sumbangan untuk korban
kabut asap.
Kabut asap
pekat akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti sejumlah wilayah di
sumatera dan Kalimantan sudah masuk kategori darurat karena mengganggu
kehidupan masyarakat. Kondisi ini menyebabkan banyak sekali dampak buruk bagi
masyrakat setempat. Karena bencana alam kabut asap yang ada. Akibat bencana ini
salah satu kelompok pelajar di kawasan magelang bergerak maju buntuk mencari
sumbangan untuk bantuan korban bencana alam. Sekelompok pelajar itu ternyata
gabungan dari anggota MPK dan PMR di SMA N 2 Magelang. Salah satu pelajar itu
adalah Bagus Ali Noguan atau saya sendiri. Kami memulai kegiatan mencari
sumbangan ini di kawasan jaln utaama jalur Magelang Jogja, perempatan Pakelan
dan kawasan lalu lintas lain.
Hari Pertama
mencari sumbangan untuk korban asap Saya
ditempatkan di perempatan pakelan. Saat pertama kali ingin meminta sumbangan di
pakelan sangat penuh dengan bahaya, karena waktu lampu merah terbilang cukup
singkat dan sisi kiri jalan digunakan untuk jalan terus bagi penguna bermotor
yang ingin berbelok. Hal itu menyebabkan sulitnya bagi kami untuk berjalan
menyebrang. Kami mencari sumbangan di pakelan dengan strategi bergantian,
dikarenakan jika dilakukan secara bersama sama kami takut akan menghambat lalu
lintas. Setelah terbilang cukup banyak hasil yang didapat dari sumbangan kabut
asap tersebut kami memutuskan untukn pulang dan melanjutkan dihari esoknya.
Hari Kedua
mencari sumbangan. Saya ditempatkan di lalu lintas dekat ARTOS MALL. Kami
meminta sumbangan setelah kami pulang sekolah. Pada hari kedua banyak sekali
kendala yang kami hadapi. Terutama ganasnya preman yang ada di lalu lintas yang
disekitar kawasan dekat pos polisi. Saat kami beristirahat saat mencari
sumbangan preman itu mendekati kami dan langsung mengatai kasar kepada kami.
Preman itu mendekat kepada kami dan bertanya tany tentang dana itu yang seakan
akan tidak percaya adanya sumbangan dana untuk korban asap. Salah satu senior
saya menjawab dengan tegas kalau sumbangan itu akan tersampaikan bagai korban
bencana kabut asap. Preman itu tetap mengatai kami. Kami bergegas menghentikan
kegiatan amal ini dan langsung kembali kerumah masing masing. Kami pulang
karena mengantisipasi agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
Setelah kami
selesai mencari sumbangan untuk kegiatan amal. Kami menghitung jumlah dari
sumbangan yang ada di sekolah kami. Kami mengirimkan uang hasil sumbangan
kepada PMI untuk disampaikan kepada pihak yang dituju.
Yosh… Sekian
yang dapat saya sampikan jika ada tutur kata yang kurang berkenan saya memohon
maaf yang sebesar besarnya.
Wasalamuallaikum WR WB